Konsep Rezeki

Rezeki tidak terpaut dari seberapa besar kerja keras kita, Rezeki tidak terpaut dari seberapa besar omset bisnis kita, Rezeki tidak terpaut dari seberapa tinggi level jabatan kita, Rezeki tidak terpaut dari seberapa besar slip gaji kita, Rezeki tidak terpaut dari etnis atau suku seseorang, Rezeki tidak terpaut dari seberapa besar gaji kita, Tetapi, "Dari seberapa besar upaya yang kita lakukan dalam memberikan manfaat sebanyak-banyaknya bagi orang lain."

"Bisnis terbaik adalah bisnis kebaikan". Sifat Rezeki sebenarnya adalah “mendatangi”, bukan dikejar. Rezeki akan mendatangi atau bahkan akan mengejar, hanya kepada orang yang pantas didatangi. Rezeki tidak mungkin tertukar dan rezeki tahu persis di mana alamatnya yang harus ia tuju. Cara yang logis untuk mendatangkan rezeki adalah, memantaskan diri atau mematutkan diri agar kita pantas di datanginya, atau bahkan dikejarnya.


"Jangan terlalu ngoyo mengejarnya, tetapi kejarlah ridhoNya", untuk mendatangkan rezeki yang tak terduga-duga berdatangan. Inilah hakikat atau intisari berikhtiar atau berupaya. Setiap ummat manusia telah ditetapkan rezekinya sendiri-sendiri, "sesuai dengan kapasitas orangnya masing-masing".

Dan orang yang "semakin bermanfaat bagi banyak orang", tentu saja semakin besarlah rezekinya. Hal yang sangat baik kalau buat doa bagi putra-putri kita di saat kelahirannya ataupun di hari lahirnya (ulang tahunnya) atau kapanpun bisa kita ungkapkan. Hakikat Rezeki bukanlah hanya harta, rezeki adalah seluruh rahmat Allah.

Berupaya (ikhtiar) adalah kwajiban kita semua, namun datangnya rezeki adalah kuasa Allah. Dan sumber datangnya rezeki, diantaranya adalah,

1. Rezeki yang sudah terjamin “Tidak ada satu makhluk melatapun yang bergerak di atas bumi ini yang tidak dijamin ALLAH rezekinya”. (QS. Hud. 6). Di point pertama ini, mengilustrasikan kepada kita bahwa, seharusnya kita “tidak perlu menghawatirkan” tentang kedatangan Rezeki kita.
Semua makhluk (apalagi yang namanya manusia) sudah terjamin kebutuhannya. Semua tersedia lebih dari cukup untuk semua orang.

2. Rezeki karena ungkapan syukur “Sesungguhnya jika kamu bersyukur pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu.” (Q.S Ibrahim : ayat  7). Point ke 2 ini sangat sederhana namun kekuatannya sungguh sangat ajaib.
Ungkapan syukur tidak memerlukan modal dan biaya apapun namun hasilnya sungguh menakjubkan, percayalah, berimanlah. Ungkapan syukur adalah “pelipat ganda (pertambahan nilai)” segala sesuatu. "Ungkapan syukur adalah saluran terbesar untuk pembaik hati kita". Kekuatan energi listrik tak kasat mata, namun dayanya tak perlu kita perdebatkan lagi. Kekuatan energi magnet tak kasat mata, namun dayanya tak perlu kita perdebatkan lagi.
Kekuatan ungkapan syukur juga tak kasat mata, namun dayanya tak perlu kita ragukan lagi, tinggal kita imani dan eksekusi saja.

3. Rezeki karena memohon ampunan “Memohon ampunlah kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, pasti Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat (Rezeki yang banyak), dan memperbanyak harta.” (Nuh : 10-11). Point ke 3 juga cukup sederhana, hasilnya pun juga tak perlu di permasahkan lagi, percayalah.
Setiap manusia memang tempatnya kekhilafan dan kesalahan. Bahkan secara ilmiyah-pun rata-rata umat manusia memiliki 77% pemikiran negatif ! Secara matematis, kalau negatifitas kita berkurang, hasil nilai dari hasil subtitusi akan cenderung menghasilkan nilai positip, atau nilai positip lebih dominan daripada nilai negatif, karena nilai negatifnya banyak yang sudah ter-"cansel" (termaafkan).
Semakin banyak memohon ampunan, semakin besar peluang nilai positip yang lebih dominan di dalam kehidupan kita. Jadi tak perlu di ragukan lagi, uangkapan memohon ampunan pada￾Nya, adalah keharusan kegiatan rutin harian kita.

4. Rezeki karena menikah “Dan nikahkanlah orang-orang yg masih membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak dari hamba sahayamu baik laki-laki dan perempuan.
Jika mereka miskin, maka Allah akan memberikan kecukupan kepada mereka dengan kurnia-Nya.” (QS.An-Nur : 32). Kehidupan orang yang seorang diri, secara harfiah memiliki Rezeki, satu saluran Rezeki. Dan ketika orang itu menambah satu orang lagi di dalam kehidupannya, secara harfiah semesta harus menambahkan minimal 2 saluran Rezeki.

5. Rezeki karena anak “Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu kerana takut miskin. Kamilah yang akan menanggung rezeki mereka dan juga (rezeki) bagimu.” (QS. Al-Israa’: 31) "Banyak anak (buah), banyak rezeki" Bayangkan saja ketika kita memiliki usaha dengan memiliki 1000 anak buah, pasti kita memiliki saluran Rezeki jauh lebih banyak, jika di bandingkan kita memiliki hanya 10 anak buah.
Letak keberkahan pebisnis, salah satunya adalah pembuka lapangan pekerjaan untuk sebanyak-banyaknya ummat manusia, sehingga kebermanfaatan bisnis ke banyak orang terpenuhi.

6. Rezeki karena taqwa “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar dan memberi nya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya”. (QS. At-Thalaq : 2-3).
Semesta ini banyak sekali hukum alam (peraturan semesta). Dan ketika kita mengikuti aturan-aturan hukum alam yang ada, sudah bisa di pastikan kita akan selamat dan sumber rezeki akan mengalir seperti yang seharusnya mengalir. Mental blok atau pemikiran negatiflah yang sesungguhnya menjadi penghalang utama sumber energi atau Rezeki tersumbat. Dan sesungguhnya, syareat Islam (hukum alam/sunattulah) sudah di berlakukan di negeri ini dan di dunia ini sejak kita sebelum lahir.

7. Rezeki karen hasil karya “Tidaklah manusia mendapatkan apa-apa kecuali apa yang dikerjakannya”. (QS. An-Najm : 39). Kita semua di beri kesempatan dalam sehari semalam sama-sama 24 jam. Kita memiliki kesempatan berkarya atau berupaya juga sama. Hari ini adalah hasil dari masa lalu kita, dan masa depan kita, bisa kita tentukan di masa kini, bukan besuk-besuk. Seperti halnya konsep MLM, sesungguhnya tugas kita saat ini adalah mengumpulkan ”point kebaikan sebanyak mungkin”. Semakin banyak point yang kita kumpulkan maka akan semakin banyak hasil yang akan kita tuai. Ada 2 bagian besar jenis upaya, yaitu jasa dan barang. Apabila kita pekerja, berkaryalah sebaik mungkin, kebaikan itu akan kita tuai sendiri. "Sopo sing gawe bakal nganggo". Apabila berdagang, jualah barang yang sebaik mungkin. Dengan kwalitas dan pelayanan yang terbaik yang bisa kita lakukan. Bukan memaksakan pembeli untuk membeli, tetapi Fokuskanlah untuk menyediakan barang barang kebutuhan bagi orang lain yang membutuhkan barang itu, sebaik mungkin. "Kita akan untung di saat kita bisa menguntungkan orang lain", ini kunci masternya. Dan sesungguhnya, "Kita akan untung di saat membeli, bukan di saat menjual". (Robert T Kyosaki)

8. Rezeki karena memberi “Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (zakat, infak atau sedekah), maka Allah akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipatan yang banyak.” (Al-Baqarah, 245) Point yang terakhir ini adalah kunci masternya (gongnya) kehidupan dunia. Bahkan orang yang meninggalkan dunia (mati), hal pertama yang ia pikirkan adalah ingin meluangkan waktu untuk berderma jika di kasih kesempatan hidup lagi. Memberi adalah suatu aksi agar kita di beri atau agar kita menerima. "Memberi => Menerima" Ini adalah kunci induk kehidupan. Di point terakhir inilah yang sesungguhnya, "Uang bekerja untuk kita", bukan kita di perbudak uang seumur hidup kita. Memberi atau berderma adalah suatu bisnis perniagaan yang pasti untung atau tidak mungkin akan merugi. 

Memberi atau berderma adalah suatu investasi yang pasti untung untuk masa depan kita. Memberi atau berderma adalah suatu asuransi allrisk, bahkan bala pun (malapetaka) akan menyingkir dari perjalanan kehidupan kita. Dan masih banyak banget manfaatnya dari aksi memberi. Itulah beberapa sumber resmi dari buku panduan hidup kita, dan ternyata tidak ada satupun yang menyebutkan rezeki berasal dari perdagangan atau jual-beli. Jual beli hanyalah sarana, point ke 7 adalah aplikasinya.
Semoga Allah senantiasa memberi keberkahan buat kita semua, Amin yaa rabbal'alamin... Semoga bermanfaat...

0 Response to "Konsep Rezeki"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel