Kisah Sukses Pendiri Blue Bird Group (Mutiara Djokosoetono)

Kisah Sukses Pendiri Blue Bird Group (Mutiara Djokosoetono)

  Oke sob, Siapa sih yang tinggal di kota-kota besar terutama Jakarta tak kenal dengan nama besar Taksi Blue Bird?.... 
Pasti tak asing lagi bukan dengan nama tersebut yang  berlambang burung dengan warna biru tua yang banyak digunakan oleh masyarakat Jakarta. Artikel Kisah inspirasi sukses Wirausaha kali ini akan menceritakan sebuah kisah sejarah perjuangan berdirinya perusahaan taksi tersebut.

  Ya taksi yang dimiliki grup ini sudah semakin banyak berada diruas jalanan kota-kota besar yang ada di Indonesia. Misal saja kota yang banyak ditemukan keberadaan taksi ini, mulai dari Jakarta, Bali, Bandung, sampai dengan Lombok. 
  
Tak di sangka usaha yang bemula dari jasa bisnis taksi gelap dan sekarang berubah menjadi market leader di persaingan bisnis Indonesia, terutama dibidang transportasi. perjuangan sang wanita ini bisa dibilang amat sangat hebat dalam merintis usahanya.

Tak sedikit halangan dan rintangan yang menerpa menjadi gambaran hidup perjuangan merintis nama Blue Bird hingga menjadikannya Taksi nomor satu. Dengan tekadnya Wanita inipun tidak segan melawan unek-unek yang menerpa usahanya. Saat ini kelompok usaha yang sering kita dengar dengan sebutan Group Blue Bird ini mempunyai banyak anak perusahaan.

jadilahjutawanbaru.blogspot.com
Mutiara Siti Fatimah Djokosoetono

Pendiri Taksi Blue Bird ini ternyata adalah seorang perempuan, beliau berasal dari Malang namanya Mutiara Siti Fatimah Djokosoetono yang dilahirkan di daerah tersebut tepat pada tanggal 17 Oktober 1921. Berasal dari keluarga yang sangat berada, namun ketika pada usia 5 tahun keluarganya mengalami  kebangkrutan. Kehidupannya berubah sangat drastis. Dari seorang gadis kecil dikelilingi fasilitas hidup yang sangat kecukupan, kemudian berbanding terbalik menjadi miskin. beliau meniti bangku sekolah dalam kesederhanaan yang sangat luar biasa. Banyak hal yang menjadi ciri kesederhanaan hidup Bu Djoko semasa kecil. Makanan yang tak pernah cukup, pakaianpun cukup seadanya,bahkan seringkali juga tak pernah ada uang jajan.
idupnya pun betul-betul bertumpu pada kekuatan untuk terus tabah. Menginjak usia remaja ketegaran beliau semakin terasah. sehingga beliau bertekad memperkaya diri dengan bekal ilmu dan kepintaran. Di saat yang sulit itu beliau berusaha merengkuh bahagiasalah satu diantaranya banyak membaca buku kisah-kisah inspiratif yang diperolehnya dari meminjam. Salah satu kisah legendaris yang menjadi bacaan favorit dan selalu menghiburnya adalah "Kisah Burung Biru" atau "The Bird Happiness". Kisah tersebut  sampai dilahap berkali-kali dan selalu menumbuhkan rasa semangat pada dirinya, penabur inspirasi dan pemacu cita-citanya.

Bu Djoko yang ketika masih remaja menyelesaikan pendidikan HBS sekitar tahun 30-an dan kemudian menyelasaikan Sekolah Guru Belanda atau Europese Kweekschool. Dengan tekad yang sangat kuat beliau memberanikan diri meninggalkan kampung halaman untuk merantau ke Jakarta. Dan beliau berhasil masuk Fakultas Hukum Universitas Indonesia dan tinggal menumpang di rumah pamannya di daerah Menteng. Kemudian jalan hidup membawanya berkenalan dengan seorang dosen bernama Djokosoetono,  beliau dosen yang mengajarnya, yang juga sebagai pendiri serta Guberbur Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian.

  Kemudian Laki-laki beruntung itulah yang menikahinya selagi Bu Dkoko masih kuliah. Hingga dikaruniai 3 orang anak yaitu bernama Chandra Suharto, Mintarsih Lestiani, dan Purnomo Prawiro. Sepanjang dasawarsa 50-an, Bu Djoko beserta keluarga melewatkan kehidupan yang sangat sederhana.

Setelah lulus dari FHUI pada tahun 1952 beliau langsung bekerja sebagai dosen di FHUI dan PTIK. 
Mereka kemudian menghuni rumah dinas yang didapat atas pekerjaan suaminya di jalan HOS Cokroaminoto Nomor 107, Menteng.

  Mereka dikelilingi oleh lingkungan yang mewah dan orang-orang dengan kemapanan materi yang bisa dikatakan di atas rata-rata. Sementara keluarga Djokosoetono praktis hanya memiliki uang kebutuhan untuk hidup saja. Untuk menambah penghasilan keluarganya, Bu Djoko hingga melakoni jualan batik dari pintu ke pintu. Tak ada rasa gengsi, tak ada rasa malu, bahkan tak ada rasa takut jika direndahkan oleh sesama isteri pejabat tinggi. Semua dilakukannya murni karena kepedulian sebagai seorang isteri untuk membantu suami mencari nafkah.

  Namun penjualan batiknya pun sempat sukses kemudian menurun. Hingga Bu Djoko beralih usaha berusaha telur di depan rumahnya. Peluang berjualan telur menjadi pilihan bisnis yang menjanjikan pada masa itu. Pada waktu itu telur belum sepopuler seperti sekarang ini. Dahulu Masih dianggap sebagai bahan makanan ekslusif yang hanya dikonsumsi orang-orang menengah ke atas saja. Dengan cerdik Bu Djoko mencari pemasok telur terbaik di daerah Kebumen. 
Dari hari ke hari usaha telur Bu Djoko dan keluarga penjualannya terus meningkat. Tetapi tak lama kemudian Kegembiraan atas keberhasilan bisnis telur menjadi meredup lantaran kesedihan memikirkan penyakit yang diderita Pak Djoko meski pemerintah saat itu memberikan bantuan penuh untuk membiayai perawatan Pak Djoko.

  Meski demikian, penyakit yang diderita Pak Djoko dari waktu ke waktubtak kunjung sembuh, sampai pada akhirnya tepat tanggal 6 September 1965 beliau wafat. Tak berapa lama setelah kepergian Pak Djoko, PTIK dan PTHM memberi kabar yang cukup mengurangi beban kesedihan keluarga. Mereka mendapatkan dua buah mobil sedan bekas, yaitu Opel dan Mercedes. Dari sinilah awal mula lahirnya Taksi Blue Bird. 

  Pada suatu malam, Bu Djoko mulai merancang ide-ide bagi operasional atas taksi yang dimilikinya, dimulai dengan dua buah sedan dari pemberian. Beliau berkhayal taksinya akan menjadi angkutan yang sangat digemari penumpangnya. Lantas muncul pertanyaan-pertanyaan dalam dirinya, Seperti apa sih bisnis taksi yang baik itu ? Tentu ia mendambakan keamanan dan kepastian tentunya. Apa jantung dari usaha itu ? Pelayanan, adalah hal pokok, tidak lebih. Lalu bagaimana agar bisnis itu tidak serta merta hanya sukses dalam melayani penumpang tapi juga sukses untuk memperoleh keuntungan? Dalam pikirannya terjawab Buat manajemen yang rapi.

  Dalam wacana yang begitu sederhana, Bu Djoko menyusun konsep yang akan diterapkan untuk menjalankan usaha taksinya. Setelah memikirkan mobil dan cara mengelola, beliau memikirkan untuk pengemudinya. Bagaimana membuat suatu aturan kerja agar si pengemudi merasakan cinta saat menjalankan tugas? Bu Djoko dengan cepat menemukan jawaban pertanyaannya sendiri. Beliau harus memperlakukan mereka seperti anak-anaknya sendiri. Sang Pengemudi itu akan dididik dengan baik, dibina, serta dirangkul untuk bekerjasama supaya berkembang. Setelah puas dengan menuangkan gagasan pemikiran tentang hal-hal yang ia kerjakan, kemudian Bu Djoko dapat tertidur dengan perasaan amat sangat bahagia.

  Inilah proses yang sangat penting dimana dalam sejarah kelahiran Blue Bird. Yaitu ketika Bu Djoko mantap memulai bisnis taksi dalam rancangan idealisme yang beliau telah buat. Walau hanya  bermodal dua mobil saja, tetapi visinya sudah sangat jauh ke depan. Dibantu oleh ketiga anak dan menantu beliau kemudian dimulailah usaha taksi gelap Bu Djoko. Uniknya lagi usaha taksi tersebut menggunakan penentuan tarif dengan sistem argo meter yang pada kala itu belum ada di Jakarta. Untuk pesanan taksi, beliau menggunakan nomor telefon rumahnya sendiri. Karena yang bertugas menerima telepon dari pelanggan yaitu puteranya yang bernama Chandra kemudian pelanggan dan orang-orang menamakan taksi itu sebagai Taksi Chandra.

  Taksi Chandra yang hanya bermula dari dua buah sedan itu kemudian menjadi begitu popular di lingkungan Menteng karena pelayanannya yang sangat luar biasa. Pesanan jasa taksinya muncul terus menerus. Sehingga dari hasil keuntungannya saat itu, BU Djoko bisa membeli mobil lagi untuk menambah armada taksinya. Kombinasi antara Bu Djoko yang mempunyai disiplin tinggi dan penuh passion dalam menjalankan usahanya berpadu harmonis dengan pembawaan Chandra yang begitu cermat dan tenang. Semua masalah yang ada dalam menjalani usaha taksi dibawa dalam rapat keluarga untuk dicari solusinya.

  Permintaan akan Taksi Chandra semakin tinggi. Usaha yang semula ditujukan untuk menjaga kestabilan ekonomi keluarga, kemudian berkembang menjadi bisnis yang amat serius. Beberapa mobil yang telah dimiliki dirasa kurang mencukupi. Titik layanan kian melebar, tak hanya di daerah Menteng, tebet, Kabayoran Baru dan wilayah-wilayah di Jakarta Pusat, tapi juga sampai ke Jakarta Timur, Barat dan Utara. Di era akhir dlamiah keluarga Bu Djoko tengah mempersiapkan asawarsa 60-an secara alamiah memasuki babak baru yang sangat penting.

  Sebuah fase dimana kehidupan berbisnis tidak lagi sekedar "aktivitas keluarga" untuk emnambah rezeki. Pada tahun-tahun menjelang 1970 relaita membuktikan bahwa mereka mampu memebsarkan armada dan mendulang keuntungan yang signifikan. Mereka bisa menambah jumlah mobil sendiri lebih dari 60 buah.
Memasuki dasawarsa 70-an, sebuah kabar gembira berkumandang. Ali Sadikin, Gubernur DKI Jakarta saat itu mengumumkan Jakarta akan memberlakukan izin resmi bagi operasional taksi. Didasari kenyataan bahwa masyarakat Jakarta sangat membutuhkan taksi. Peluang ini direspons dengan insting luar biasa dari Bu Djoko. Maka memasuki tahun 1971, dengan spirit penuh ia segera berangkat ke DLLAJR untuk mendapatkan surat izin operasional. Namun anti klimaks dari harapan, Bu Djoko selalu ditolak karena alasan bisnis dia masih kecil. Memang saat itu yang mendaptkan izin adalah perusahaan-perusahaan yang pernah menjalankan bisnis angkutan besar.
  Namun Bu Djoko sosok yang tak kenal putus asa. Tak terhitung jumlahnya berapa kali dia selalu mengalami penolakan. Hingga terbersit ide brilian untuk mengumpulkan isteri janda pahlawan yang telah menitipkan mobil mereka untuk dikelola sebagai taksi. Diajaknyaa para janda pahlawan untuk bersama-sama menyerukan petisi kemampuan perempuan dalam meimpin usaha. Mereka mendatangi kantor gebernur dan menghadap langsung Ali Sadikin. Menghadapi orasi Bu Djoko, Ali Sadikin tersentuh dan menetapkan agar Bu Djoko diberikan izin usaha untuk mengoperasikan taksi. Sungguh sebuah pencapaian menggembirakan dari kesabaran bolak-balik melobi DLLAJR, walau akhirnya harus melalui pertemuan dengan Gubernur.

  Bu Djoko tidak berminat bergabung. Ia lebih berpikir untuk mencari jalan bagi kemandirian bisnisnya. Tak ada jalan lain untuk menghubungi Bank. Yang terjadi kemudiana dalah sentuhan invicible hand yang bekerja dalam memudahkan Bu Djoko mendapat pinjaman Bank. Mantan murid suaminya dengan cepat membantu memuluskan proses di Bank dan pinjaman pun mengalir.Bagi Bu Djoko suatu yang sangat luar biasa. Di atas kertas sulit mendapatkan dana yang mencukupi untuk membeli 100 mobil. 
Tapi saat itu dia bisa! Di tahun itu pula Bu Djoko dan anak-anaknya bersiap mencari nama dan logo taksi. Taksi Chandra tetap dijalankan sebagai taksi per jam atau hourly. Sementara taksi baru di bawah PT Sewindu Taxi segera disiapkan namanya. Ide lagi-lagi datang dari Bu Djoko, hingga diberilah nama taksi Blue Bird. Dengan logo sederhana berupa siluet burung berwarna biru tua yang sedang melesat, hasil karya pematung Hartono. Logo itu seperti pencapaian yang membuktikan bahwa ia mampu menghidupkan cita-cita yang diteladankan kisah The Bird of Happiness.

  Pada tanggal 1 Mei 1972, jalan-jalan di Jakarta mulai diwarnai taksi-taksi berwarna biru dengan logo burung yang tengah melesat. Taksi itu mencerminkan semangat jerih dan idealisme yang dikobarkan Bu Djoko. Bersama tim di PT. Sewindu Taxi, Ournomo pun mantap menjalankan tugas operasional perusahaan. Bisa dikatakan tahun-tahun 70-an merupakan masa penggodokan idealisme Blue Bird. Dalam kesederhanaan Bu Djoko memimpin perjalanan besar membawa Blue Bird siap mengarungi zaman. Dia menanamkan kepada awak angkutan bagaimana menumbuhkan sense of belonging yang tinggi terhadap Blue Bird dengan menjadi "serdadu-serdadu" tangguh dan penuh pengorbanan. 

  Mereka menikmati masa-masa sangat bersahaja dimana teknologi sama sekali belum menyentuh Blue Bird. Di paruh kedua dasawarsa 70-an, kekuatan armada Blue Bird telah bertambah menjadi sekitar 200 lebih taksi. Pengelolaan yang sangat rapid an manajemen keluarga yangs ehat memungkinkan PT. Sewindu Taxi yang menaungi Blue Bird menambah armadanya. Mobil-mobil tersebut ditempatkan di dua pool yanga da, di jalan Garuda, Kemayoran dan di jalan Mampang Prapatan. Purnomo dipercaya untuk memimpin Blue Bird sebagai ditektur operasional, setelah sang kakak Chandra fokus di PTIK.
Pada tahun 1985, 13 tahun setelah Blue Bird lahir, armada bertambah gemuk, hamper mencapai 2.000 taksi. Keyakinan BU Djoko bahwa masyarakat perlahan tapi pasti akan mantap memilih Blue Bird dengan kualitas layanan proma dan sistem agrometer yang terpercaya akan terbentuk. Dan benar! Saat itulah muncul banyak taksi-taksi tanpa meteran.

  Ketika masyarakat memilih taksi meteran yang layak, pilihan jatuh pada Blue Bird yang telah mantap menjalankan sistem agrometer selama belasan tahun. 
Memasuki paruh kedua dasawarsa 80-an bisa dibilang Blue Bird terus memantapkan diri. Apresiasi masyarakat terbentuk, citra Blue Bird sebagai taksi ternyaman, teraman, dengan pengemudi yang santun telah dikenal luas dan menjadi suatu keyakinan yang mengakar. Inilah masa dimana operator Blue Bird sibuk melayani permintaan konsumen yang membeludak. Jumlah taksi terus bertambah mendekati 3.000 unit. Order terus meningkat. Blue Bird tak pelak menjadi pilihan para pemilik gedung-gedung seabagai taksi resmi di tempat mereka. Blue Bird berkibar di banyak titik penting di Jakarta.

  Kemajuan demi kemajuan tak terbendung lagi di tubuh Blue Bird. Manajemen yang rapi, idelisme yang dijaga ketat, pengaturan finansial yang sangat matang dan strategi ekspansi yang arif, membuat langkah kemajuan Blue Bird begitu tertata dan sangat cantik. Perpaduan antara kekuatan karisma Bu Djoko, agresivitas dan kreativitas Purnomo, serta ketenangan strategi Chandra membuat Blue Bird di era 90-an menunjukkan perkembangan yang sehat. Faktor yang mempengaruhi kemajuan Blue Bird di era ini, tak pelak adalah kemajuan persepsi masyarakat. 

  Sungguh tepat prediksi Bu Djoko tentang perusahaan taksi masa depan. Bahwa kelak di kemudian ahri, masyarakat akan mencari, membutuhkan, dan fanatic pada taksi yang teruji kualitas pelayanannya, aman, prima dan nayaman. Argometer yang dulu ajdi momok dan dianggap sebagai "mimpi di siang bolong" ternyata tak terbukti. Justru argometer yang dipakai Blue Bird menjadi standar paling fair yang dicari penumpang.
Inilah catatan penting dari perjuangan Bu Djoko dalam membidik sukses masa depan: kesabaran, teguh dalam prinsip, kepemimpinan yang tegas dan bijaksana serta profesionalisme. Setelah perjauangan berat di era 70-an dan 80-an, maka era 90-an memberikan Blue Bird Group manis buah yang manis. Perkembangan asset adalah hal yang paling menonjol jika membicarakan kemajuan Blue Bird di era 90-an. Jumlah taksi sebelum krismon mencapai hampir 5.000 mobil. Jumlah pool terus bertambah. Blue Bird pun berkembang di sejumlah Provinsi. Generasi 90-an akhirnya ikut merasakan bagaimana tegak di tengah kepungan terror pihak yang tak suka akan kehadiran Blue Bird. Sebuah inovasi baru juga dilakukan Blue Bird Group melalui peluncuran Silver Bird, executive taxi pada tahun 1993.

  Di negara-negara lain tidak ada yang namanya executive taxi. Yang beredar adalah general taxi dengan batas tarif yang telah ditentukan pemerintah. Ide diawali oleh diadakannya KTT Non Blok yang digelar di Indonesia tahun 1992. Saat itu pemerintah menyediakan fasilitas mobil mewah untuk kebutuhan mobilitas semua peserta KK, yakni 320 sedan Nissan Cedric. Pemerintah akhirnya menunjuk Blue Bird menyediakan 320 pengemudi andal dan berpengalaman. Usai KTT, ratusan sedan mewah tersebut menganggur. Saat itu lahirlah pemikiran untuk menciptakan satu produk baru berupa taksi kelas eksekutif yang lebih mewah. Akhirnya Blue Bird membeli 240 dari 320 sedan mewah eks KTT dan menjadikannya sebagai Silver Bird.

  Tanggal 1 Mei 1997, Blue Bird juga meresmikan kelahiran Pusaka Group yang diniatkan menjadi generasi yang lebih segar dan dinamis dari armada taksi yang sudah ada. Hadirnya Pusaka Group yang menggulirkan taksi Cendrawasih dan Pusaka Nuri pada awalnya merupakan cita-cita Blue Bird untuk melahirkan generasi baru Blue Bird yang lebih modern. Sebagai perusahaan konservatif, Blue Bird sangat berhati-hati meluncurkan bisnis baru yang belum bisa dijamin nasib masa depannya. Maka mantaplah kemudian dilahirkan Pusaka Group sebagai anak perusahaan yang lebih dinamis, tidak konservatif, agresif bergerak di daerah dan dikelola murni oleh keluarga Bu Djoko. Pusaka Group ternyata menunjukkan keberhasilannya. Selanjutnya didirikan Golden Bird yang beroperasi di Bali. Diikuti daerah-daerah lain seperti Surabaya, Bandung, Manado, Medan, Palembang, dan Lombok.

  Di dasawarsa 90-an kesehatan Bu Djoko merosot akibat serangan kanker paru-paru. Sosoknya bersemangat tak merasa tersudutkan oleh penyakitnya. Sambil terus memimpin perusahaannya, Bu Djoko menyediakan banyak waktu, perhatian dan tenaga untuk menyembuhkan penyakitnya. Tapi kanker paru-paru yang ddideritanya terlalu buas untuk tubuhnya yang semakin menua. Pada tanggal 10 Juni tahun 2000 ia menutup mata di RS Medistra. Sang Burung Biru itu telah pergi.


  Tapi ia meninggalkan sesuatu yang tak pernah terhapus waktu. Semangat murninya tidak hanya tersimpan di ahti anak-anak dan cucunya, tapi juga mengalir di segenap batin puluhan ribu karyawannya, mengudara di gedung-gedung dan pool Blue Bird dan melesat bersma taksi-taksi Blue Bird yang melintas di jalan-jalan. Blue Bird di era Millenium bagaikan burung yang terbang tinggi, melebarkan kepak sayapnya dan merambah cakrawala luas. Kehadiran para cucu, emningkatnya pengalaman Chandra dan Purnomo dan semangkin tingginya jam terbang karyawan membuat perusahaan ini terbaik di bidangnya. Pada dasawarsa keempat Blue Bird berjuang melintasi era teknologi canggih dan berusaha luwes.

  Perusahaan ini telah berkembang sedemikian rupa seperti benih yang menumbuhkan batang kuat dan menghasilkan rimbun dedaunan dengan dahan yang terus bertambah banyak. Dari awal bergulirnya dengan 25 kekuatan taksi, kini Blue Bird telah memiliki lebih dari 20.000 unit armada. Kini ada 30.000 karyawan yang berkarya di kantor pusat dan cabang. Tak kurang 9 juta penumpang dalam sebulan terangkut oleh armada Blue Bird di sejumlah kota di Indonesia. Jumlah pool telah mencapai 28 titik. Armada juga terus diremajakan. Beberapa kali mengganti kendaraan dengan yang baru. Armada Silver Bird yang semula menggunakan sedan Nissan Cedric kemudian diganti dengan Mercedes di tahun 2006. Sebuah terobosan luar biasa yang mencengangkan.

0 Response to "Kisah Sukses Pendiri Blue Bird Group (Mutiara Djokosoetono)"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel